Belajar Dari Kisah Si Burung Surga



Perang Mu’tah adalah perang besar antara kaum Muslimin dengan Tentara Romawi. Perang itu dipicu oleh terbunuhnya Harits bin Umair saat hendak menemui penguasa Bushra. Harits bin Umair adalah utusan Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallama. Harits dibunuh oleh Syurahbil Amr ketika baru sampai di dataran Syam. Syurahbil bin Amr adalah pembesar Ghassan yang tunduk pada Romawi. Saat Syurahbil tau bahwa orang itu adalah utusan Rasulullah, dia lantas membunuhnya. Rasulullah menganggap bahwa dibunuhnya utusan beliau oleh Syurahbil merupakan penentangan terang-terangan, deklarasi perang, penghinaan tanpa ampun, dan provokasi yang tidak mungkin dibiarkan.
Oleh karenanya, beliau mengumpulkan tiga ribu orang dari pasukan terbaiknya dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah.

Sungguh merupakan momen yang sulit. Saat kaum muslimin berhadapan dan memandang hamparan tentara musuh yang berbaris rapi. Tiga ribu melawan dua ratus ribu yang dilengkapi dengan berbagai senjata dan peralatan canggih lainnya.

Kaum muslimin yang bermarkas di Mu’an, tanah Palestina, tengah memikirkan bagaimana cara menghadapi besarnya kekuatan musuh yang sangat tak sebanding itu. Ada yang mengusulkan dengan berkata,

“Kita tulis saja surat kepada Rasulullah dengan menjelaskan jumlah pasukan musuh. Ada kemungkinan beliau akan memberi pasukan tambahan atau memberi instruksi baru pada kita, maka kita akan patuhi sepenuhnya.”

Pendapat ini hampir disetujui semua hadirin, kalau bukan Abdullah bin Rawahah berbicara,

“Wahai saudaraku sekalian, demi Allah, mengapa kalian membenci hal yang sejak awal menjadi tujuan kalian: kesyahidan? Kita tidak memerangi musuh berdasarkan besarnya jumlah dan kekuatan, kita tidak memerangi mereka kecuali atas dasar agama yang telah Allah muliakan kita dengannya. Maka, mari berangkatlah! Sungguh, hanya salah satu dari dua kebaikan yang menanti: menang atau syahid!”

Kemudian bangkitlah semangat mereka. Pasukan itu bergerak hingga sampai ke perkampungan Mu’tah, yang segera disambut oleh pasukan Romawi. Zaid bin Haritsah mengibarkan panji Nabi, lalu dia menerjang ke barisan tengah musuh. Sampai akhirnya tombak-tombak musuh mengoyak tubuhnya.

Kemudian panji tersebut segera diambil alih oleh Jafar bin Abi Thalib. Sesuai dengan sabda nabi,

Jika Zaid gugur, maka Jafar bin Abi Thalib yang menggantikan sebagai pemimpin, dan jika Jafar gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang mengambil alih sebagai pemimpin. (HR. Ahmad:300).

Jafar berperang dengan mengangkat panji, hingga musuh mengelilingi kudanya dan membuatnya terjungkal ke tanah. Dia sigap bangkit dan bertempur dengan berjalan kaki, menerjang musuh layaknya anak panah yang melesat dari busurnya. Pedangnya mengincar kepala-kepala musuh dimana saja. Sampai ketika tangan kanannya ditebas pedang musuh, panji dia pegang erat dengan tangan kirinya, dan saat tangan kirinya putus, dia mendekap panji tersebut dengan dadanya sampai terbunuh. Seorang tentara Romawi telah membelah tubuhnya menjadi dua bagian, dan pada jasadnya terdapat sembilan puluh tusukan.

Kemudian Abdullah bin Rawahah maju, mengambil alih panji dan memimpin perang tersebut. Sampai akhirnya dia pun terbunuh  dan digantikan oleh Khalid bin Walid.

Pasukan Khalid berhasil membuat musuh tak berani memulai menyerang dan melewati batas pasukannya. Akhirnya Khalid memutuskan untuk menarik pulang pasukannya ke Madinah. Tentara Khalid disambut langsung oleh Rasulullah dan kaum Muslimin saat kembali ke Madinah. Nabi meminta untuk melihat jenazah Jafar, lalu beliau ikut mengangkatnya.

Kesedihan tampak jelas pada diri Rasulullah sejak beliau tau bahwa Zaid dan Jafar terbunuh. Beliau telah pergi ke rumah Jafar sebelum datangnya pasukan Muslimin dan didapatinya Asma binti Umais, istri Jafar yang telah bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya.

Beliau berkata,

Bawalah anak-anak Jafar kehadapanku.” 

Dan ketika mereka didatangkan, Rasulullah langsung memeluk anak-anak itu sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau berlinang membasahi pipinya.

Asma bertanya dengan rasa cemas akan musibah apakah yang menantinya,

“Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang membuat engkau menangis? Apakah telah sampai kepadamu kabar tentang Jafar dan Pasukan Muslimin?”

Beliau menjawab, “Ya, hari ini Jafar telah syahid”.

Setelah melihat datangnya anak perempuan Zaid, beliau mengelus pundaknya dan menangis. Sebagian orang sangat terkejut dengan harunya tangis Rasulullah atas mereka yang ditinggalkan. Beliau mengatakan bahwa itu adalah ungkapan tulus bagi orang yang kehilangan sahabatnya. Ketika jenazah Jafar tiba di Madinah dan dikuburkan setelah tiga hari sejak kembalinya Khalid dan pasukannya, Rasulullah memerintahkan untuk menghentikan tangisan. Beliau menyampaikan bahwa Allah telah mengganti tangan Jafar yang terputus dengan dua sayap, yang dengan sayapnya itu dia terbang ke surga. Jafar serta sahabat-sahabatnya sangat gembira dapat pergi ke surga.

Sahabat blogger yang ku cintai, kisah Jafar bin Abi Thalib ini hanyalah sebagai pengingat untuk kita. Kisah Si Burung Surga yang mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu yang apabila kita ikhlas merelakannya ketika Allah ambil, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Jika sesuatu itu tak kita dapatkan saat di dunia, mungkin Allah ingin menyimpan dan memberikannya saat di akhirat nanti. Yakinlah, bahwa semua rencana Allah itu adalah yang terbaik untuk kita.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal Dari Mishary Rashid Al-Afasy

Nasihat Diri

Titik Terang